TEKNIK MENULIS CERPEN
Untuk menulis cerpen yang menarik, kita bisa menggunakan dua teknik penulisan: showing dan telling
A. Showing
Teknik menulis cerpen
"showing" (menunjukkan, bukan menceritakan) adalah teknik
yang mengajak pembaca untuk merasakan cerita melalui tindakan, dialog, detail
indra, dan pikiran karakter, bukan hanya memberitahunya secara langsung. Cara melakukannya adalah dengan mendeskripsikan suasana,
emosi, dan konflik melalui aksi, gambaran sensorik, dan perbandingan kreatif
daripada hanya menyatakannya secara eksplisit
Cara menerapkan teknik "showing" dalam cerpen:
1. Gunakan indra: Deskripsikan apa yang karakter lihat, dengar, cium, rasakan, atau sentuh untuk membuat adegan lebih nyata bagi pembaca.
Contoh: Daripada menulis "ruangan itu berantakan", tulis "Kertas-kertas berserakan di lantai, tumpukan buku menjulang di atas meja, dan ada noda kopi di karpet."
2. Deskripsikan aksi: Tunjukkan emosi atau suasana melalui tindakan fisik karakter, bukan dengan menyebutkan emosinya secara langsung.
Contoh: Daripada menulis "dia sangat marah", tulis "Tangannya terkepal erat, buku-buku jarinya memutih. Ia membanting pintu dan terengah-engah."
3. Gunakan dialog yang bermakna: Biarkan dialog karakter menunjukkan perasaan, hubungan, dan kepribadian mereka melalui cara mereka berbicara, pilihan kata, dan nada suara.
Contoh: Daripada menulis "dia sedih", tunjukkan melalui dialog: "Suaranya bergetar saat dia bergumam, 'Aku tidak tahu harus bagaimana lagi.'"
4. Libatkan perbandingan: Gunakan simile dan metafora untuk memberikan gambaran yang lebih hidup dan emosional kepada pembaca tanpa harus menjelaskan secara langsung.
Contoh: Daripada menulis "dia gugup", tulis "Jantungnya berdetak kencang seperti genderang yang dipukul dengan tergesa-gesa."
5. Berikan konteks emosional: Jelaskan apa yang terjadi sebelumnya yang memengaruhi perasaan karakter saat ini untuk memberikan kedalaman pada adegan.
6. Fokus pada detail sensorik: Alih-alih "menceritakan" bahwa sesuatu terasa dingin, deskripsikan sensasi dingin itu dengan detail, seperti "Udaranya terasa seperti tusukan es di kulitnya".
B. Telling
Teknik menulis cerpen telling berarti "memberitahu" cerita secara langsung kepada pembaca melalui narasi. Ini berbeda dengan teknik showing yang mendeskripsikan melalui tindakan dan dialog. Teknik ini efektif dengan cara menyusun kerangka cerita yang jelas, fokus pada alur (pengenalan tokoh, konflik, klimaks, solusi), dan menggunakan gaya bahasa yang langsung, kalimat sederhana, serta pemilihan sudut pandang yang tepat.
Teknik menulis cerpen telling berarti
"memberitahu" cerita secara langsung kepada pembaca melalui narasi.
Ini berbeda dengan teknik showing yang mendeskripsikan melalui tindakan dan
dialog.
Teknik ini efektif dengan cara menyusun
kerangka cerita yang jelas, fokus pada alur (pengenalan tokoh, konflik,
klimaks, solusi), dan menggunakan gaya bahasa yang langsung, kalimat sederhana,
serta pemilihan sudut pandang yang tepat.
Teknik menulis cerpen telling
1.
Struktur Cerita: Susun cerita dengan
struktur yang jelas, seperti teknik "The Mountain" yang mencakup
pengenalan tokoh, konflik, puncak konflik, dan resolusi.
2.
Sudut Pandang: Pilih sudut pandang yang
sesuai. Sudut pandang orang pertama ("saya") atau orang ketiga
terbatas ("dia") sering digunakan untuk penceritaan langsung,
memberikan kedekatan namun tetap dalam batasan yang jelas.
3.
Kalimat: Gunakan kalimat yang pendek,
sederhana, dan aktif untuk membuat narasi lebih ringkas dan langsung. Hindari
kalimat yang terlalu rumit atau panjang.
4.
Alur: Pastikan alur cerita mengalir secara
logis dari awal hingga akhir, termasuk penyelesaian konflik di bagian resolusi.
5.
Bahasa: Gunakan bahasa yang lugas dan
langsung. Terkadang, gaya bahasa ini bisa sedikit dilebih-lebihkan, namun tetap
kredibel, terutama jika konteksnya seperti naskah iklan. Untuk cerita fiksi
yang lebih serius, tetaplah realistis.
6.
Fokus: Berikan informasi dan pesan dengan
jelas. Teknik ini cocok untuk menyampaikan informasi atau pesan secara langsung
kepada pembaca.
Contoh telling:
"Mark merasa cemas sebelum presentasi. Dia berdiri kaku dan tidak
bisa berbicara. Dia hanya bisa bergumam 'Uh...ya'."
Komentar
Posting Komentar